Beginilah Parahnya Budaya Jam Karet Orang Indonesia





Kalau ada satu hal buruk yang sepertinya sepele namun dilakukan secara konsisten dan oleh banyak orang Indonesia, itu adalah TERLAMBAT. Tidak hanya di negara sendiri, yang terkenal dengan jam karetnya, banyak orang Indonesia di luar negeri yang tetap memelihara kebiasaan buruk menyebalkan ini.

Saya dibesarkan oleh dua orang guru yang sama-sama keras, dan dari kecil saya diajari bagaimana menghargai waktu sebagaimana mestinya. Akibatnya, saya selalu datang 5-10 menit lebih awal dari perjanjian, dan selalu merasa tidak enak hati kalau harus terlambat, yang biasanya karena alasan transportasi dan bukan kesengajaan datang terlambat. Menunggu itu menyebalkan, bukan hanya membosankan, jadi karenanya saya selalu berusaha menepati janji supaya tidak membuat orang lain sebal.

Tapi kenyataannya tidak semua orang berpikiran seperti saya. Seorang teman di Twitter, sekali waktu pernah menulis:

Besok jam 08.00 ya. B: (07.45) Saya sudah di lokasi. A: Waduh, jam 8 kumpulnya, acara jam 9. F*cking Indonesian Logic.

Begitulah kebiasannya. Acara mulai jam sekian, diumumkannya sejam sebelumnya karena kebiasaan ngaret yang selalu dipelihara itu. Yang hingga sekarang saya heran asal muasalnya darimana dan kenapa kebiasaan buruk itu terus dipelihara. Terlambat itu bukan masalah sepele sama sekali. Bukan juga karena kita ‘toleran’ lalu segala hal bisa ditoleransi seenaknya.

‘Sama temen ini’, atau ‘terlambat hanya 15 menit kok’, bukan alasan untuk membenarkan keterlambatan. Kalau hal kecil semacam janjian dengan teman saja sudah terlambat, apalagi untuk hal besar seperti janjian dengan bos. Lalu akibatnya merembet ke hal lain-lain yang seharusnya tidak boleh terlambat: rapat, jam kedatangan dan keberangkatan sarana transportasi umum. Tidak malu dikenal dengan jam karetnya?

Di luar negeri pun banyak yang begitu. Janjian jam 10, datangnya jam 10.30. Kalau itu janjian dengan saya, sudah saya tinggal begitu jarum jam menunjukkan jam 10.01. Saya tidak peduli dikatakan sok atau galak. Wong tujuannya baik. Kalau sesama orang Indonesia yang diajak janjian, bisa jadi mereka maklum (meski dongkol dan jengkel), tapi kalau dengan orang negara lain yang terkenal dengan kebiasaan ‘on the dot’?

Kemarin saya janjian dengan seorang teman (orang Taiwan), yang belum pernah bertemu sebelumnya. Janji awal jam 5, kemudian dia SMS jam 4.30 memberi tahu kalau dia mungkin baru selesai jam 5 pas sehingga ketemunya jam 5.10 saja (kantornya masih di kampus juga). Saya sampai di tempat yang ditentukan jam 5.12. Jam 5.10, si teman ini SMS saya, mengatakan bahwa dia baru keluar dari kantornya dan akan datang 2 menit kemudian. Jam 5.13, dia sampai dengan nafas terengah-engah karena harus berlari dari kantornya. Kata pertama yang dia ucapkan: maaf, maaf, dan maaf. Karena keterlambatannya yang ‘hanya’ 3 menit, yang sudah dia informasikan sebelumnya ke saya. Dalam perjalanan pun dia masih berkali-kali minta maaf, lalu menawarkan untuk makan malam bersama, katanya. “I am so sorry because this is the first time I make appointment with you and I am late”.

Jam keberangkatan kereta dan bus antar kota (kalau bus kota sering meleset sedikit karena tidak punya jalur khusus sehingga kadang terjebak padatnya lalu lintas) juga selalu on the dot. Sekali waktu saya pernah menggunakan bus malam ke Kaohsiung (5 jam dari Taipei), di tiket busnya dijadwal berangkat jam 00.43. Saya waktu itu mampir sebentar untuk membeli makan, sampai di tempat bus berangkat jam 00.44. Ya busnya sudah berangkat. Ish. Akhirnya saya harus menukar tiket dan berangkat jam 01.16. Ya berangkatnya pas jam 01.16, itu artinya sudah harus sampai di sana sebelum jam itu. Indonesia? Kereta api Sancaka yang paling sering saya naiki dari Surabaya ke Solo, tertulis berangkat jam 07.00, jam segitu keretanya baru memasuki peron. Delay pesawat? Sudah menjadi berita dan komplain sehari-hari. Tapi tetap tidak ada perbaikannya.

Jam karetnya orang Indonesia itu sudah keterlaluan karena bahkan orang-orang penting di universitas, yang notabene seharusnya tahu benar bahwa tepat waktu itu penting, juga ternyata tidak kalah ngaret. Seorang profesor di jurusan saya bercerita, ketika kunjungan ke Indonesia dan dijadwalkan bertemu dengan (saya lupa) rektor atau wakil rektor (universitas negeri, ga usah saya sebut namanya ya), beliau mengalami hal yang sama. Janjian akan dijemput jam 2, jam 1.55 si profesor sudah menunggu dengan manis di lobi hotel, eh, mobilnya baru datang jam 4, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Lha gimana ga jengkel? Malu-maluin. Tamu kok diperlakukan begitu. “What if the people have some other thing to do after the meeting?”, kata beliau. Ya kalau setelah jam 2 (yang molor sampai jam 4 itu) si profesor tidak ada janji lain, kalau ada? “People will regard you as mean, but you know they respect you enough for being on time”, beliau menambahkan.

Mengubah kebiasaan itu sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa. Kita-kita masyarakat biasa, bisa saja mengelak, “lha wong pejabat juga suka telat”. Ya jangan dijadikan alasan, justru itu sebagai masukan untuk mereka, ayo diingatkan supaya tidak terlambat. Untuk para pejabat, coba tepat waktu, lalu sindir mereka yang suka ngaret, kan efek mempermalukan itu langsung berasa. Tidak perlu sungkan, sungkan iku ra payu neng manca negara. Sungkan itu sungguh tidak laku di luar negeri.


SUMBER