Kisah Seorang Ibu yang Dituduh Membunuh Putrinya




Sesekali wanita berkacamata memandang orang yang berada di sekitarnya. Namun itu tak lama. Dia kemudian melanjutkan menunduk dan memainkan jari jemarinya di netbook putih yang dipangku di pahanya.

Di sela - sela kesibukannya, wanita bertubuh kecil dan berambut pendek tersebut terlihat seakan menahan tetesan air mata ketika beberapa orang dekatnya membedah kembali permasalahan yang dihadapi, terlebih menyangkut putri kecilnya, Kinanti Arumningtyas. Ya, Eri Maryana, seorang ibu yang berdomisili di Surakarta itu berusaha tegar dan kuat sejak putri keduanya yang berumur sekitar 6 tahun divonis mengidap leukimia berjenis acute lymphoblastic leukosit (ALL) yang dapat dilihat dari hasil laboratorium darah dan sumsum tulang belakang.

Sejak saat itulah, wartawati di sebuah harian yang terbit di Solo ini harus berpandai - pandai membagi waktu. Pagi hingga siang hari, menjaga Kinan (sapaan Kinanti Arumningtyas) dan sore hingga malam hari bekerja di koran sebagai desk. "Meskipun berat, harus saya lakukan demi Kinan. Bahkan saya pun kerapkali mencuri - curi waktu dari Solo ke Yogyakarta untuk berkonsultasi dengan dokter ahli disana. Dan mencari informasi lain pada teman di Semarang," kata wanita kelahiran Pekalongan, 10 Maret 1977 itu.

Eri menjelaskan, berdasarkan hasil rekomendasi beberapa dokter dan persetujuan mantan suaminya, Kinan pun kemudian menjalani pengobatan dengan cara kemoterapi. "Tiap kali ingat kata dokter ketika itu, saya tidak bisa menahan tangis. Pregnosisis Kinan jelek. Dan, rasa waswas itu makin menjadi saat dua hari jelang Lebaran. Kinan tergolek lunglai. Rambutnya hampir habis. Mata, kaki dan tangan mulai menguning. Berkali - kali kencing darah," jelas mahasiswi Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang angkatan 1995 itu.

Ternyata, lanjutnya, ada kerusakan ginjal dan fungsi hati akibat obat kemoterapi hingga ketujuh itu. Kinan mengalami komplikasi gangguan hepar sangat parah yang disebabkan pemberian pregnison terus menerus dan berujung kritis. Denyut jantungnya makin tidak terkendali. Tepat di ruang ICCU sekitar pukul 08.00, putri kecil itu menghembuskan nafas terakhir. "Putri yang kulahirkan pada 6 Mei 2005 itu tergolek lemas dan tak bernyawa lagi. Seakan tidak percaya," kenangnya.

Menurut Eri, tidak cukup sampai di kematian Kinan cobaan berhenti. Pasca itu, cercaan, hujatan dan hinaan terus mengalir baik secara lisan maupun melalui pesan singkat. Mereka menuduh Eri sebagai penyebab atas kematian Kinan. Rasa ketidakterimaan atau protes pun terus dilancarkan kepada pihak rumah sakit yang telah memberikan rekomendasi kemoterapi itu.

"Hingga 100 hari meninggalnya Kinan, saya terus dicerca, terutama dari keluarga mantan suami. Seakan saya menjadi pembunuh anak saya sendiri. Keadaan itulah yang membuat saya meluapkan rasa selama ini dengan menulis buku berjudul 'Aku pembunuh?'," jelasnya. Dia mengaku, buku bersampul merah hati setebal 90 halaman yang pertama kali dibuat lebih untuk menunjukkan bagaimana perjuangan seorang ibu saat anak yang dicintai mengalami sakit parah.


SUMBER