Gelar Kebanggaan


Malin adalah mantan supir camat di daerah Payakumbuh. Ia hendak mengadu nasibnya dan merantau ke Jakarta. Setelah sampai di Jakarta, ia bekerja sebagai tukang angkut di sebuah pasar konveksi.
Dari hasil upah angkutnya, ia lalu bisa ikut berjualan di pinggir jalan.
Nasib baik memihaknya. Beberapa tahun kemudian, Malin berhasil memiliki kios kain di pasar itu. Ia pun berkeluarga dan punya dua anak. Bahkan di tahun berikutnya, Malin pun membangun rumah di area kampus ternama di Jakarta, tempat di mana dosen-dosen kampus itu juga tinggal di situ.

Para tetangganya yang semuanya adalah dosen memasang papan nama di depan rumahnya dengan beragam gelar, mulai master hingga professor. Merasa malu namanya tak bergelar, Malin lalu memasang papan nama yang sama, dengan tulisan DR Malin MSc. Saat ayah Malin datang berkunjung, bertanyalah ia perihal gelar tersebut,”Nama itu artinyo Disiko Rumahnyo Malin Mantan Supir Camat.”